“Wild Banana” – My Bungalow
Bila saya berjalan menuju bungalow dengan terperangah sambil melihat pemandangan asri dan alami di sekeliling saya, begitu sampai di bungalow saya lebih terkesima lagi. Bungalow yang saya tempati, bernama Wild Banana, berada tepat di ujung area akomodasi, berbatasan dengan jalan masuk ke hutan. Karena bentuknya rumah panggung, saya harus naik beberapa anak tangga untuk mencapai bagian teras, di mana terdapat pintu masuk. Tapi tunggu dulu….ternyata ada teras kedua yang lebih luas, yang terhubung dari kamar tidur lewat pintu kaca selebar dua daun pintu, seperti patio untuk bersantai lengkap dengan sepasang kursi kayu dengan mejanya. Wow…!
Ini foto yang ada di situs resmi Mulu Park, persis dengan yang asli. Pintu yang terbuka lebar adalah pintu samping yang mengarah ke patio, sedangkan pintu kecil di sebelah kanan adalah yang menuju ke teras.
Sekilas saya memperhatikan kalau ada pintu lain, yang menuju area kamar mandi, yang ternyata terbagi dua lagi, ruang shower dan ruang toilet.
Kenapa hanya sekilas saya perhatikan? Karena sudah hampir jam 5 sore dan saya belum makan siang
Ransum yang saya terima dari dua kali penerbangan siang ini hanyalah satu potong kue bolu dan satu kaleng Milo.
Café Mulu
Buru-buru saya menuju Café Mulu yang letaknya persis di sebelah kantor, dan di tepi sungai. Hmm… lokasinya oke, tapi ternyata harganya nggak oke banget. Air mineral ukuran kecil (500 ml) harganya 3 ringgit, tiga kali lipat di kota. Belakangan saya tahu bahwa air keran di kamar bisa langsung diminum seperti di sebagian kota-kota Eropa. Hayyyaaaa….dari dulu saya paling nggak pede minum dari air keran. Aneh juga memang, mengingat saya pernah minum langsung dari sungai dan kubangan air saat masih bergabung dengan pecinta alam dulu, ha..ha.. Akhirnya saya memutuskan untuk tetap membeli air mineral, dan lain kali memasak air keran di dengan pemanas air yang disediakan di kamar.
Dan harga nasi goreng adalah….. RM 10, atau dua puluh delapan ribu. Euuuhh… nggak rela! Apalagi di dekat rumah di Jakarta ada tukang nasi goreng yang harganya delapan ribu! Tapi, karena balik ke Jakarta khusus untuk beli nasi goreng adalah rencana tak berakal dan non-beradab, terpaksalah saya relakan. Untungnya porsinya gedeeee banget, untuk kapasitas perut saya bisa dua kali makan. Jadi, sisanya saya bungkus deh untuk makan malam *kedip-kedip*
Plus, saya memesan secangkir kopi susu yang ternyata rasanya nggak enak banget. Aaaiiiih…. Dasar lapar mata!
Sambil jalan ke bungalow, mampir di toko suvenir yang juga jual makanan ringan. Tak disangka-sangka saya menemukan kopi sachet Indocafe…. Hhhuuuaaa… what a relief! Kalau mengandalkan kopi di café, mungkin hidup saya nggak panjang
Sambil menunggu makanan tiba, saya memesan paket tur di kantor, karena kantor taman nasional hanya buka sampai jam 5 sore. Rencana awal saya kira-kira tampak seperti ini:
- 1 Jul: Pagi melakukan perjalanan sendiri (self-guide walk) menuju Air Terjun Paku (Paku Waterfalls). Malam ikut tur Night Shift, yaitu berjalan dengan pemandu di malam hari melalui jalur tertentu sejauh kurang lebih 2 km, untuk melihat kehidupan malam dalam hutan.
- 2 Jul: Perjalanan dengan pemandu menuju Garden of Eden, sebuah lembah tersembunyi yang bisa ditempuh dengan beberapa jam berjalan kaki melalui Deer Cave, dilanjutkan dengan mengunjungi gua selebriti: Deer Cave & Lang Cave
- 3 Jul: Canopy Walk atau tur melalui jembatan gantung di atas pohon
Ya ya ya… sangat ambisius, dan benar-benar bertolak belakang dengan rencana semula untuk duduk manis menikmati suara alam sambil mencari inspirasi untuk mengakhiri plot buku yang sedang saya tulis.
Memasuki malam hari, saya terperangah mendengar betapa berisiknya suara alam yang muncul dari arah hutan. Tanpa pernah jeda sedetik pun, terdengar suara gabungan dari beratus-ratus spesies serangga, burung, kelelawar, dan entah apa lagi, yang saling sahut-menyahut. Suaranya nggak kalah dengan perempatan lampu merah yang sedang macet, di mana mobil saling mengklakson dan orang saling berteriak. Yang membedakan adalah walaupun suara berisik alam ini memekakkan telinga tapi menenangkan jiwa.
‘Horor’
Pukul 10 malam, di antara suara berisik binatang hutan, saya mendengar suara langkah kaki yang menapaki tangga menuju bungalow saya. Ups…
Saya sendirian di bungalow berlokasi di pinggir hutan yang berjauhan dengan bungalow lain, tanpa tivi, tanpa telepon……satu-satunya andalan bila ada hal-hal tak diinginkan adalah teriakan. Suara langkah kaki itu langsung membuat saya menegakkan badan dan mulai deg-degan. Dan untuk pertama kalinya, saya berharap punya teman perjalanan.
Pertanyaan pertama: gaib atau non-gaib?
Ini adalah hasil nggak sehat dari kesukaan nonton film horor waktu masih kecil. Setelah mendengar langkah mondar-mandir di teras yang nggak ragu-ragu, saya berkesimpulan kalau itu non-gaib… fiuuuuuh……
Pertanyaan kedua: manusia atau hewan?
Nah, di bagian ini, imajinasi saya langsung terisi oleh pembunuh berantai yang meninggalkan korbannya di hutan. Mata otomatis mendelik ke pintu doong, untungnya udah dikunci… fiuuuuh lagi….. Terdengarlah suara langkah itu semakin agresif mondar-mandir di teras saya, lama-lama jadi kayak suara lari mondar-mandir seperti sedang main bola… lho? Hmm…. Pasti binatang!
*menyeka keringat dingin di dahi*
Pertanyaan ketiga: hewan apa?
Pertanyaan ini saya rasa nggak sepenting dua pertanyaan sebelumnya, jadi saya nggak ambil pusing. Sebenarnya saya bisa aja mengintip ke luar jendela, tapi siapa juga yang mau kaget! Gimana kalau ternyata itu binatang berbulu dan bersungut seukuran anjing dengan muka bertaring menyeramkan yang sedang menyeringai??
Akhirnya saya pasrahkan tu binatang lari-lari bolak-balik kayak lagi main bola.
Akhirnya, saya tarik selimut sampai nutupin kepala dan tiduuuuuuuuuuur………… sambil berharap mudah-mudahan mimpi indah!
Apes bin apes, jam 2 malam saya terbangun dari tidur karena suara gradak-gruduk di teras yang keras banget, seolah-olah si hewan mengajak teman-temannya untuk main bola di teras saya. Ya ampuuun…. ! Nggak cuma itu, eh, maag saya kumat pula. Huh, gara-gara kopi nggak enak sore tadi, saya malah jadinya nggak bisa menikmati indocafe yang saya beli di perjalanan ini. Setelah makan obat dan makan biskuit, saya pun pulas lagi.
Paku Waterfall
Saya baru bangun dari tempat tidur jam 9 pagi keesokan harinya. Setelah sarapan dua pancake tipiiiiiiiiiiis banget di café (untungnya paket sarapan gratis), saya siap-siap jalan sendiri ke Paku Waterfalls yang berjarak 2,8 KM.
Karena saya mau jalan tanpa ditemani pemandu, saya harus menulis nama di papan tulis di pos sekuriti, beserta jam berangkat. Setelah kembali nanti, saya harus langsung ke pos dan mencoret nama tersebut dari daftar. Dengan cara ini, di akhir hari petugas di Taman Nasional bisa tahu siapa saja orang yang belum balik, dan kemungkinan nyasar.
Perjalanan saya dimulai dengan jalan santai di atas jalan kayu yang merupakan terusan jalan area akomodasi, berupa jajaran papan kayu seperti jembatan selebar 2 meter. Luar biasa rasanya berjalan sendirian seperti itu, menembus hutan di atas jalan panggung dari kayu. Selain bisa merasakan keindahan alam secara langsung ditemani berbagai suara binatang di habitat aslinya dan pemandangan hijau rapat yang menyegarkan mata, perjalanan ini terasa sangat aman dan nyaman.
Setelah berjalan sekitar satu setengah kilometer, jalan bercabang dan terpasang sebuah penunjuk jalan: jalan lurus nan nyaman di atas papan kayu adalah jalan yang menuju Deer & Lang Cave, sedangkan ke kiri sejauh 1.3 KM adalah ke Paku Waterfall. Ke arah Paku Waterfall, terlihat ada sebuah tangga kecil keluar dari jembatan yang nyaman dan kering, menuju…..jalan setapak tanah yang basah…. Aiiiiih…… ya…ya…ya… saya jadi manja banget setelah jalan dengan nyaman sejauh 1.5 KM, he..he.. Akhirnya saya turun dengan setengah nggak rela, pas kebetulan ada rombongan orang yang pulang tur dari arah Deer & Lang Cave. Sambil melambai, pemandunya bilang, “Don’t get lost.”
Hold on…. wait a second!
Saya langsung berhenti. “Emangnya bisa hilang ya??” Pertanyaan itu langsung tersembur dong dari mulut saya. Pemandunya jawab selama saya tetap berada di jalur, saya nggak akan hilang. Yang terlarang adalah melanjutkan perjalanan dari Paku Waterfall ke Camp 1 tanpa pemandu. Jalur ke Paku Waterfall ini adalah jalur yang sama dengan jalur pendakian ke Gunung Mulu, jadi kadang beberapa orang merasa tergoda untuk melanjutkan perjalanan setidaknya ke Camp 1. Walaupun di peta tampak dekat tapi kalau dilakoni tanpa pemandu dijamin nyasar.
Ho..ho…jangan kuatir…. Saya tidak berencana sama sekali menghabiskan malam dingin di dalam hutan tanpa senter, tanpa makanan, tanpa jaket, dengan resiko digigit serangga dan binatang buas, sambil gemetaran berdoa supaya tim pencarian menemukan saya….. lebih baik tidur di bungalow dengan kasur dan selimut empuk.
Jadi, mulailah saya masuk hutan yang sebenarnya, menyusuri jalan tanah yang ditandai dengan batu-batu kecil yang dijajarkan di kiri dan kanan jalan setapak.
Awalnya sih memang seperti itu. Tapi lama-kelamaan, hutan semakin basah, jalan semakin becek, dan batang pohon rubuh yang melintang di jalan semakin banyak (walaupun sudah dipotong sehingga tetap ada jalan). Walaupun bukan halangan yang berarti, hal-hal itu membuat petunjuk batu-batu kadang menghilang selama beberapa saat, dan yang lebih fatal adalah, menurunkan tingkat kepercayaan diri saya berjalan sendirian di hutan.
Rute saya kurang lebih seperti ini: jalan setapak di hutan – ketemu jembatan kecil nyebrang sungai kecil – ketemu jalan pinggir sungai besar – lewat di bawah jembatan gantung – masuk hutan lagi – ketemu jembatan kecil yang nyebrang sungai kecil lagi – ketemu pinggir sungai besar lagi.
Saya sih ngerasa sudah berjalan jauh, sekitar setengah jam. Dan mengingat jarak ke air terjun dari persimpangan tadi hanya 1.3 KM, harusnya sih saya sudah tiba. Tapi waktu tiba di pinggir sungai, kok saya lihat permukaannya sama sekali nggak beriak ya? Nah lho. Mulai panik sedikit dong….
Walaupun sejauh ini binatang yang saya temukan hanya ulat bulu raksasa yang punggungnya berduri (asli kayak duri, bukan bulu), kupu-kupu, serta beberapa kadal, tetap saja nyasar di tengah hutan bukan ide yang menarik.
Saya mulai celingak-celinguk melihat jalan di depan. Saya yakin jalurnya benar karena masih terlihat batu-batuan di pinggir jalan setapak, tapi ketidakjelasan posisi dari titik akhir membuat saya ragu. Dan, setelah diam sesaat, melihat peta, trus memperhatikan jalan di depan yang becek banget, akhirnya saya balik badan.
Ciaoooo….. Nggak penting deh masih deket atau masih jauh, tapi membayangkan setelah berendam dengan tenang di sungai sekitar air terjun saya masih harus berjuang juga melewati becek-becek ini, kayaknya kok ide melanjutkan jadi nggak menarik. Dan akhirnya, setelah tiba di jembatan kayu nan kering dan indah, saya nggak menyesal sama sekali memutuskan untuk balik karena perut saya keruyukan minta diisi. Berhubung malamnya sudah ada segelintir sakit maag, semriwing keruyukan ini nggak bisa diabaikan begitu saja. Satu lagi ….. saya dah kepengen ke toilet, he..he…
Nah, supaya pembaca tidak terlalu kecewa karena nggak ada foto, saya tampilkan foto yang ada di situs resmi Mulu Park.
Ha? Kok kecil banget ya….. ini sih bukan air terjun, tapi air mengalir di batu. Di Indonesia sih pastinya banyak air terjun yang lebih mengesankan. Melihat foto itu, saya nggak menyesal tidak sampai ke sana, tapi kalau saya lihat air dengan permukaan tenang di sekitar air terjun,….. jangan-jangan dari pinggir sungai saat saya berbalik arah tadi jaraknya tinggal satu belokan lima puluh meter ya …. Aaaaarrrgghhh…..!
Setelah sampai di bungalow dan mandi, saya ke pos sekuriti untuk coret nama, lalu makan siang: sate ayam dengan nasi, seharga RM 12. Setelah itu tiduuuuuuuuur sampai sore.
Gagal Ikut Tur Malam (Night Shift)
Makan malam jam 18:30, saya pesan nasi dengan ayam asam manis dan beli air mineral ukuran besar. Pengeluaran: 12+6 = RM 18. Wah, ini mah perampokan, masa’ air mineral harganya RM 6 atau hampir delapan belas ribu! Eh, tapi salah saya sendiri sih, kenapa juga tadi lupa masak air di kamar….hiks…hiks…
Ternyata hujan turun lebaaat sekali pas selesai makan malam. Pemandu minta peserta menunggu setengah jam lagi. Kalau hujan tidak berhenti juga, tur dibatalkan dan peserta bisa minta uang dikembalikan esok hari.
Sambil menunggu, saya cerita bahwa di pagi hari saya berjalan ke Paku Waterfall, tapi kembali setelah melihat jalan becek. Eh, dia bilang biasanya kalau lagi berlumpur dan becek begitu banyak lintah…. Untuuuuuuung saya balik tanpa sempat kena senggol lintah! Pas lagi jalan tadi, saya sempat terpikir tentang lintah terutama waktu ujung celana bergesekan dengan dedaunan yang rapat. Untunglah saya balik tanpa cacat kulit. Pemandu bilang ada tiga cara melepas lintah, yaitu dioles pakai tembakau (yang ada di bagian dalam rokok), diludahi, atau disentil. Ada juga cara lain, yaitu nunggu sampai lintahnya kenyang n ndut, nanti dia menggelosor lepas sendiri
Dia juga sempat cerita tentang lintah yang namanya Tiger Leech atau lintah harimau yang guede dan ada strip kuning di samping badannya. Nah, kalau yang ini, sakit banget rasanya kalau sampai kena gigit.
Kayak apa ya Tiger Leech, penasaran deh saya. Eh, ketemu nih gambarnya di internet. Tapi karena ada copyright-nya, link-nya aja ya….
http://travel.mongabay.com/topics/new/tiger%20leech1.html
Hiiiiiiiiiii……. kebayang jadi segendut apa kalau udah menghisap darah!
Karena hujan tak mereda, akhirnya tur malam ini dibatalkan. Hmmm…. apakah ini akibat banyak yang mendoakan supaya plot buku kelar? Ck..ck..ck… doanya mempan juga
Oke deeeeh, malam ini berarti bengong sambil memikirkan plot, he..he..
Garden of Eden – Gagal lagi!
Saya mulai yakin banyak banget yang doain supaya saya duduk manis di depan komputer ketimbang jalan-jalan.
Pagi-pagi saya dah dengan semangat jalan ke kantor sambil berharap dapat pengembalian tur semalam. Eh, tanda terima saya ketinggalan di bungalow. Jadilah saya jalan ngebut kembali ke bungalow. Sewaktu tiba di bungalow, dada saya berdebar minta ampun! I’m not talking about a ‘regular’ fast beat, but felt like my heart was banging the skin from inside, wanting to jump out! Wah, saya panik dong, apa ini pertanda bakal ada serangan jantung. Saya duduk tenang dan ambil nafas, tapi nggak berhasil menenangkan debar yang masih lari. Rasanya seolah diri saya dengan debar jantung itu adalah dua entitas yang berbeda, bukan satu kesatuan. Di satu sisi saya merasa nafas stabil dan sudah tenang, tapi jantung masih juga berdegup kencang.
Akhirnya, saya kembali ke kantor dan membatalkan tur pagi karena nggak enak badan, tapi tetap ikut tur siang mengunjungi Deer & Lang Cave. Thank God, uang saya untuk tur pagi ini ternyata dikembalikan. Dan debar jantung itu pun normal kembali setelah setengah jam menyewa komputer kantor untuk membuka facebook. Mungkin sindrom orang kota kali’ ya… kalau kelamaan nggak ketemu internet langsung sakit, hi..hi…
Royal Mulu Resort
Karena nganggur, saya berinisiatif untuk jalan ke Royal Mulu Resort, yang katanya sekitar 4 km dari taman. Di gerbang, saya tanya ibu sekuriti yang jaga, menurut beliau saya harus jalan lurus sampai ketemu pertigaan…yaa…sekitar 100 meter lah, lalu belok ke kanan. Nah, sambil ngomong ‘kanan’, tangannya nunjuk ke kiri. Lho?? Karena nggak yakin, saya tanya lagi sambil konfirmasi bahwa tangan kiri itu ‘kiri’ … eh, beliau ngotot bahwa arah kiri itu disebut ‘kanan’
Karena yakin ini bakal jadi perdebatan tak berujung, saya menyerah, menganggap kiri adalah kanan, lalu langsung jalan.
Dan, tidak sulit ditebak bahwa perkiraan jarak 100 meter itu hanya isapan jempol belaka. Karena saya ngerasa jalan udah jauh banget, tapi kok ujung dari 100 meter itu nggak kelihatan juga. Setelah sampai di pertigaan yang dimaksud, barulah saya baca panah petunjuk: “Taman National Mulu: 800 m”. Hah! Pantesan kagak sampe-sampe!
Yah, dari situ jalan sekitar 3 kilo lagi, untungnya di 1 kilo terakhir dapet tebengan motor dari cowok pembuat kerajinan tangan Mulu bernama Elvis.
Royal Mulu Resort, kalau menurut pendapat pribadi saya dari penglihatan sekilas, tampak lebih suram dari akomodasi di taman nasional. Kemungkinan karena bangunan-bangunannya tidak tampak terawat. Harganya pun lebih mahal ketimbang tinggal di area taman, tapi ya wajarlah, labelnya saja sudah Resort. Kelebihannya adalah, fasilitas hiburan lebih lengkap. Ada meja biliar, kolam renang, dan kayaknya sih di kafenya ada TV (saya nggak tau di kamarnya ada TV atau nggak). Saya sempat bertanya apakah aktivitas tetap sibuk saat libur Idul Fitri dan resepsionis menjawab ‘Ya’. Sebagian besar pengunjung adalah tamu asing yang tidak merayakan Idul Fitri, dan rupanya sebagian besar penduduk di Mulu beragama Katolik.
Setelah puas melihat-lihat Royal Mulu Resort, saya jalan balik lagi ke Park, sayangnya nggak ada tebengan. Ternyata jalan cepat tanpa tebengan memakan waktu pas ½ jam. Di perjalanan, ada pemandangan indah sebuah gereja katolik kecil dengan latar belakang jajaran bukit, yang dijamin akan tampak bagus sekali di atas kertas. I wish I had my camera, hmfftp….
Makan siang saya bawa ke kamar, beef burger dengan kentang. Kena biaya tambahan sebesar RM 0.5 untuk membayar tempat plastik. Nah, yang ini saya puaaaas banget…. nggak tau juga apakah ini akibat jalan 8 km di tengah hari bolong. Daging burgernya empuk banget dan very juicy. Cocok untuk menyiapkan perut bagi tur siang hari.
Omong-omong, sudah dua hari di Mulu, saya gagal terus nih ikut tur. Ih, nggak seru deh! *sorakin Clio, “Huuuuuuu”* Moga-moga siang hingga sore ini perjalanan ke Deer & Lang Cave bisa berhasil dan berjalan lancar…..
(bersambung ke Mulu Bagian 3
)

