Tag Archives: Taman Nasional Mulu

Jurnal Perjalanan: Mulu, Sarawak – Bagian 4

Canopy Walk

Malam terakhir di Mulu, tidur saya sama sekali nggak nyenyak. Bukan karena saya mendadak jadi melankolis, tapi karena harus bangun pagi untuk tur sementara satu-satunya alarm di handphone sudah tewas. Jadilah saya bangun tiap beberapa jam untuk mengecek waktu.

Jam 7 pagi, saya berangkat untuk Canopy Walk dengan pemandu bernama Jenny, beserta tiga peserta lain dari Inggris. Sama seperti kebanyakan pemandu lain, Jenny asli Penan, penduduk asli daerah Mulu.

Kembali menapaki jalan yang sama dengan dua perjalanan sebelumnya, ternyata saya bisa mendapat pengalaman baru karena Jenny ternyata punya pendengaran dan penglihatan bak seorang super-woman. Dengan bantuannya, saya bisa melihat beberapa jenis kupu-kupu, serangga, dan ulat bulu – yang terakhir ini ada yang berbulu biasa, berbulu gondrong, dan ada yang berduri seperti landak. Menurut Jenny, bahkan setelah ulatnya matipun duri itu masih terasa menyengat bila terkena kulit.

Si gondrong… ngeliatnya aja udah gatel-gatel… :)

Dan, yang tidak pernah akan saya lupakan adalah pemandangan seekor laba-laba yang sedang merajut sarang, dengan sorotan matahari pagi yang menyisip di antara tumbuhan. Sangat jelas terlihat bagaimana serabut benang keluar dari mulut sang laba-laba, lalu ditautkan ke benang melintang yang berfungsi sebagai poros, hingga akhirnya melingkar sempurna. Melihat pemandangan ini, tidak ada yang pantas disebut selain nama Tuhan yang Maha Agung dan Maha Besar.

Karena saya tidak punya gambar si om laba-laba, saya kasih liat gambar jalan panggung yang dilalui dalam hutan ya….sisanya silakan imajinasi sendiri :p

Sebelum naik ke kanopi, Jenny bertanya dulu apakah ada yang punya masalah dengan ketinggian. Tiga peserta lain menggeleng. Saya bilang, “Not that I know of….” Dengan jawaban itu, kami semua naik dengan tangga ke platform pertama, yang merupakan titik awal lintasan kanopi setinggi lebih kurang 20 meter.

Yang dimaksud kanopi adalah sebuah jembatan gantung dengan pijakan selebar dua papan kayu—pas untuk satu badan orang dewasa. Di kiri-kanan, disediakan pegangan berupa tali. Pemandu memberitahu bahwa walaupun kanopi kuat, tapi akan lebih baik bila pada saat bersamaan  hanya ada dua orang dewasa di atas kanopi. Jadi kami harus mengantri untuk berjalan; ketika satu orang sudah tiba di ujung, satu orang lagi bisa naik.

Saatnya saya membuktikan apakah memang benar saya tidak punya masalah dengan ketinggian.  Horeee! Ternyata untuk premis yang satu ini terbukti. Dengan gagah berani saya melangkah sambil melihat 20 meter ke bawah, dan merasa sangat bangga bahwa saya tidak pusing atau ketakutan.

TAPIIIIIIIIII, saya menemukan masalah baru. Semakin ke tengah, kanopi semakin bergoyang. Keberanian saya raib dan saya langsung mengerut seperti tikus. Rasanya ingin melangkah buru-buru supaya penderitaan cepat berakhir, tapi kanopi malah makin bergoyang dengan setiap pijakan. Nah lho… mati kutu!

Karena jantung sudah tak bisa kompromi, saya pun mengambil langkah kurang cerdas, yaitu berhenti melangkah. Sialnya, posisi saya tepat di tengah-tengah lintasan, tapi saya bersyukur karena goyangannya berhenti. Saat saya (dan kanopi) mulai tenang, tau-tau kanopi mulai mengayun lagi. Ternyata di belakang saya salah satu peserta tur mulai masuk ke kanopi dan tanpa perasaan bersalah melangkah dengan brutal. OMG! Setelah keringat dingin di tengah lintasan sambil memasang ekspresi datar karena gengsi, akhirnya saya bisa mengambil kesimpulan brilian: semakin kaku badan saya, semakin tidak seimbang badan saya, sehingga kanopi semakin berayun. Buat saya yang dalam kondisi kepepet, itu adalah penemuan baru yang layak dianugerahi nobel! Akhirnya saya berhasil memerintahkan diri sendiri untuk melemaskan badan dan melintasi kanopi dengan selamat tanpa mempermalukan diri sendiri. Berita buruknya adalah, lintasan kanopi yang saya lewati barulah yang pertama dari rangkaian kanopi yang harus dilewati. Uuuppss…….

Ternyata benar perkataan bijak ‘practice makes perfect:) Setelah kanopi ketiga, saya mulai rileks. Saya juga menemukan satu trik, yaitu berjalan tepat di belakang pemandu, jadi tidak ada kesempatan ada orang lain di belakang saya sampai saya tiba di ujung platform.

Berikutnya, saya langsung berjalan di belakang Jenny. Tepat di tengah-tengah lintasan, Jenny berhenti dan menunjuk ke satu pohon yang persis berada di sebelah kanopi. Seekor ular viper warna hijau sedang duduk anteng menunggu mangsa! Ho..ho..ho… luar biasa rasanya bisa sedekat itu dengan alam. Viper adalah ular yang menurut istilah Jenny bukan venomous tapi megavenomous karena menyerang saraf dan mengakibatkan kematian dalam waktu singkat. Menurut Jenny, viper bisa duduk tenang di satu posisi selama berminggu-minggu bila tidak diganggu. Dia pernah melihat viper yang sama di tempat yang sama selama tiga minggu.

Kejutan berikutnya adalah ketika Jenny berteriak sesampainya di platform. Dia bilang sedang mencari serangga yang sering nemplok di pohon yang ada di platform, ketika dia melihat kaki berbulu bersembunyi di lubang dahan di pohon di platform. Bisa menebak? Saya melihat arah yang ditunjuk, hanya setengah meter di atas kepala saya, dan terlihatlah kaki berbulu warna hitam yang dimaksud. Sebuah Tarantula! OMG!

Sayang saya tidak jadi ikut Night Shift. Kalau iya, saya bisa melihat sarang tarantula di tanah, yang hanya dibuka oleh pemiliknya di malam hari untuk mencari mangsa. Di siang hari, saya tidak akan bisa melihatnya karena mereka menyembunyikan sarangnya. Anyway, I guess seeing one Tarantula in one visit is enough… perhaps some other time.

Di platform yang lain, kami melihat tiga burung Hornbill terbang. Dari bawah, mereka tampak berwarna putih, dengan bagian belakang hitam. Yang menarik dari burung ini adalah suara unik yang ditimbulkan oleh kepak sayap mereka, yang terdengar hingga jarak puluhan meter. Bahkan Jenny sudah bisa tahu akan ada Hornbill yang lewat karena sudah mendengar suara itu terlebih dahulu. Saya baru tersadar yang saya dengar adalah bunyi kepak sayap mereka setelah mereka akhirnya berhenti di pucuk pohon dan suara aneh yang mengganggu telinga saya hilang. Barulah keluar ‘O’ bulat dari mulut saya.

Perjalanan berlanjut, dan entah di platform ke berapa, saya dan Jenny merasa dilempari batang pohon dari atas. Ternyata ada seeokor tupai yang sedang mengais-ngais batang pohon, membuat potongan-potongannya berhamburan ke bawah menimpa kami. Hmm.. nakal ya… nggak pernah diajari sopan-santun ke tamu :)  Cute, though….

Di platform tupai ini saya sempat ngobrol dengan salah satu peserta lain. Nah, kalau kemarin saya syok mendengar Mike dan Judy keluar dari pekerjaan mereka untuk liburan 8 minggu, yang ini hampir membuat saya lompat dari platform. Bapak ini keluar dari pekerjaannya sebagai Waste Water Treatment Engineer di London untuk liburan selama 10 bulan! *pingsan*

Setelah tur berakhir saya berjalan cepat ke area akomodasi karena masih harus sarapan dan check out. Dalam perjalanan, saya masih sempat berpapasan dengan beberapa kadal, serangga, dan kupu-kupu. Tiba di area taman jam 9.30, waktu penghujung sarapan. Untung masih kebagian….

Akhirnya saya check out jam 10.20, setelah sebelumnya minta izin untuk check out telat dari jam resmi 10.00. Transport ke airport sama harganya dengan transport ke taman nasional dari airport, yaitu RM 5, tapi beda mobilnya ;) kali ini saya kebagian Landcruiser, sharing mobil dengan sepasang suami istri dari New Zealand. Horeeeeee…..

Sorak sorai saya nggak bertahan lama. Begitu sampai di airport saya mendadak dilanda kesedihan yang dalam. Tak ada lagi suara binatang yang menemani dan menakut-nakuti saya tidur. Tak ada lagi berjuta bintang berkelap-kelip di langit tanpa tabir polusi. Tak ada lagi udara segar yang membasuh paru-paru sepanjang hari. Tak ada lagi hijau yang menyapa mata dengan keindahan Tuhan :(

God willing, I’ll return one daySee you in the hopefully-not-so-distant future Mulu…..

 

7 Comments

Filed under Mulu Park - Sarawak, Travel