Pukul 14:00.
“Sakit perut?” Enggak.
“ Pusing?” Enggak.
“Jantung ngadat?” Enggak.
“Paru-paru mampet?” Enggak.
“Bisul pecah?” Enggak….Eh, Clio nggak bisulan deng…
“Horeeee…….”
Alhamdulillah…… akhirnya saat yang saya tunggu-tunggu dengan perasaan harap-harap cemas tiba juga, kali ini sehat walafiat.
Jam dua siang, semua peserta yang ikut tur Deer & Lang Cave berkumpul di depan kantor. Selain saya, ada tiga orang Malaysia, dua orang Canada, dua orang Jerman, dan tiga orang Jepang. Saya terkagum-kagum dengan dua peserta tur dari Canada yang ternyata asli Taiwan. Mereka memakai sandal jepit tanpa membawa perlengkapan apa-apa, hanya menenteng kamera poket. Yang pria, bahkan tidak berbaju, hanya mengenakan celana hawai seperti ke pantai. Sementara semua peserta lain rata-rata membawa tas ransel kecil untuk membawa perlengkapan seperti senter, jas hujan, kamera, dan botol minum, serta memakai sepatu tentunya. Saya malah bawa obat lengkap, plus plester, he..he..
Awalnya saya agak kurang antusias saat membayangkan 1.5 KM perjalanan akan sama persis dengan kemarin. Tapi ternyata itulah gunanya pemandu. Kalau kemarin saat berjalan seorang diri ke Paku Waterfall saya lebih banyak mengamati lintasan pikiran diri sendiri, saat ini saya mengamati alam dengan bantuan mata terlatih dan tajam milik Henry, pemandu berlisensi dari Taman Nasional. Belum lama kami berjalan, dia sudah menunjukkan seekor ular kecil di sisi jalan panggung. Saya pernah memegang ular sejenis dan sekecil itu di Sumatra, yang dijuluki ular lidi….diameternya mungkin hanya setengah senti, berwarna coklat seperti tanah dengan sedikit motif. Kalau jalan sendiri, dijamin pemandangan itu terlewat oleh saya.
Kami mengerumuni ular kecil itu dan beberapa orang sibuk foto-foto (*hiks). Mendadak mulutnya terbuka lebaaaaar sekali seperti sedang menguap…. Such an interesting view. Apakah sudah waktunya si ular tidur siang?
Menurut salah satu peserta, menguap itu adalah tanda ketidakpercayaan diri. jadi ular itu kemungkinan sedang merasa terancam dan memberi peringatan sebelum menyerang. Ups…. untung ukurannya kecil…. Bagaimanapun juga, kabuuuur….
Tak jauh dari situ, Henry meminta kami berhenti di dekat satu pohon dan mencari seekor serangga yang sedang menempel di batang yang tidak jauh dari kami, hanya berjarak satu meter dari wajah. Urgh, saya gagal total menemukan serangga yang dimaksud. Pria Malaysia yang bernama Elen* memutuskan untuk menyentuh sebuah dahan tipis berdaun supaya batang pohon bergoyang dan serangga bergerak, tapi malah dahan itulah yang bergerak! Wow, ternyata itu adalah serangga yang dimaksud….benar-benar penyamaran yang sempurna. Henry menyebutnya dengan Stick Insect, dan saya nggak tahu apakah ada istilah dalam Bahasa Indonesia untuk itu.
*Btw, saya nggak yakin menuliskan nama Elen dengan benar, tapi kedengarannya sih seperti itu saat dia memperkenalkan diri.
Ini foto stick insect dari national geographic. Kalau di foto ini masih terlihat jelas yang mana yang ranting pohon dan yang mana serangga, yang saya lihat tidak sejelas itu. Stick Insect yang saya lihat lebih tersamar lagi karena kakinya hilang dua, kemungkinan dimakan binatang lain
….but hey, that’s life in the jungle.
Sumber: http://animals.nationalgeographic.com/animals/bugs/stick-insect/
Henry juga memperlihatkan contoh solidaritas antar-tanaman di hutan. Ha?
Awalnya dia menunjuk sebuah tanaman merambat dengan daun yang bolong-bolong, lalu bertanya ke peserta kenapa tanaman itu bolong. Jawaban polos tentunya adalah, “Memang diciptakan Tuhan sudah begitu.”
Tentu semua sebab bisa ditarik ke Yang Maha Kuasa, tapi selalu ada alasan di balik setiap penciptaan. Ternyata bolong-bolong itu bukan semata hiasan untuk membuat daun tampak imut, tapi ada penjelasannya.
Karena hutan hujan di Mulu sangat rapat, tanaman bersaing untuk mendapatkan sinar matahari untuk fotosintesis. Lubang-lubang besar di daun itu akan mengurangi jumlah permukaan yang memerlukan sinar matahari untuk fotosintesis. Dengan kata lain, lebih hemat lah yaaaaa….
Alasan lain, yang membuat saya tercengang adalah, lubang-lubang itu juga berguna untuk meneruskan sinar matahari ke daun-daun di bawahnya, sehingga semua daun bisa kebagian.
Aiiih… malunya ya kalau jadi manusia nggak bisa menunjukkan rasa solidaritas dan saling mengasihi serta membantu sesama. Tumbuhan aja bisa! How nature is teaching us so many things…..
Henry juga menunjukkan satu tanaman yang mengeluarkan suara gemerisik seperti suara TV rusak bila digoyang-goyang. Ternyata batang pohon tersebut kosong dan menjadi sarang semut. Suara gemerisik yang kami dengar adalah suara kepala semut yang beradu, sebuah tanda untuk siaga dan ancaman untuk mengusir pengganggu. Dan benar saja, begitu Henry mengangkat satu daun yang menyembunyikan lubang masuk ke batang pohon, semut-semut merah berhamburan keluar! Kabuuuuuur………
Setelah berjalan santai selama kurang lebih 40 menit, kami tiba di area terbuka seukuran lapangan tenis, tempat mengamati kelelawar yang terbang keluar dari gua (Bat Observatory). Dari tempat ini, antara jam 5 hingga jam 7 petang bisa terlihat jelas berjuta kelelawar yang keluar dari sarangnya untuk mencari makan.
Sumber: http://blog.malaysia-asia.my/2009/07/bat-watching-at-mulu-caves-in-sarawak.html
Tempat ini akan menjadi tujuan akhir tur hari ini, namun sekarang kami mampir untuk duduk sebentar dan ke toilet.
Toilet?? OMG! Saya terkagum-kagum banget di tempat terpencil seperti ini ada toiletnya. Dan begitu masuk, saya ternganga melihat betapa putih bersih (dan kering!) lantai, dinding, dan klosetnya. Bahkan tersedia gulungan tisu! Oh…my beloved country…kapan engkau bisa seperti ini… hiks….
Setelah istirahat seadanya, kami beranjak untuk berjalan ke Lang Cave. Di jalan setapak menuju Lang Cave, kami disambut oleh sebuah pemandangan yang tak disangka-sangka: kupu-kupu yang terbang memenuhi jalan setapak. Ada lebih dari sepuluh kupu-kupu berwarna kuning-hitam tahu-tahu muncul di depan kami, beterbangan bebas seperti panitia penyambutan. Kami berhenti sebentar untuk menikmati pemandangan langka ini, dan melihat satu kupu-kupu hinggap di jalan, disusul dengan kupu-kupu lain, dan lain, hingga akhirnya ada lima kupu-kupu berbaris. Spektakuler, seperti masuk ke negeri dongeng.
Sambil melanjutkan perjalanan, Henry menjelaskan bahwa nama gua ini diambil dari nama penemunya….. Omong-omong, asyik juga kali’ ya kalau tahu-tahu ada yang iseng menamai gua dengan nama saya: Gua Clio Freya. Atau, jalan juga oke: Jalan Clio Freya. Atau, gedung juga boleh: Gedung Clio Freya ….. Mengkhayal boleh dooong……
Lang Cave
Selamat datang di Lang Cave! Fiuuuh… akhirnya di hari ketiga berhasil juga lihat gua.
Sumber: http://www.mulupark.com/htm/cave_activities/index.htm
Masuk ke gua Lang, belum jauh dari mulut gua, Henry menunjukkan cacing yang membuat perangkap serangga di langit-langit. Benang-benang halus bergelantungan dari atas sepanjang tiga senti, yang fungsinya untuk menjebak serangga—mirip dengan sarang laba-laba, hanya beda bentuk saja. Di salah satu gua di Meksiko ada cacing yang sama, namun jaringnya berpendar dalam gelap (glow in the dark). Ternyata itu maksudnya supaya lebih menarik bagi serangga. Di Lang Cave ini, cacingnya nggak perlu repot-repot cari perhatian seperti itu karena serangganya banyak sekali…ibarat kata, dicuekin aja malah datang sendiri. Hmm….nggak nyangka kalau cacing aja bisa pakai taktik jual mahal juga.
Di beberapa tempat di gua ini, penerangan datang dari lampu yang akan menyala secara otomatis bila area tersebut dilewati pengunjung….hiks… kalau di negara tercinta, mungkin umurnya tak lama kali’.
Sumber: (I think I got it from either the National Geographic site or the World Heritage site).
Di gua ini pengunjung dimanjakan dengan berbagai bentuk bebatuan stalaktit dan stalagmit, mulai dari bentuk kerucut biasa, jamur, pancuran mandi, hingga yang ehm… *sensor*…. menyerupai bentuk organ reproduksi. Henry menyebutnya dengan ‘naughty by nature’
Kalau penasaran, lihat di link berikut aja ya…. another visitor to Mulu Park, who are very smart to have their camera ready (unlike me, *sigh*):
http://www.goolooloo.com/travelogue-tips/mulu-world-heritage-–-day-2-lang-deer-cave
Deer Cave
Setelah puas dengan Lang Cave, kami ke Deer Cave. Nah, Deer Cave adalah gua dengan ukuran mulut gua terbesar di dunia, sekitar 150 meter. Di chamber atau ruang tertinggi, ukurannya mencapai 350 meter, wow… itu lebih dari sepertiga kilometer!
Sumber: http://www.wallpaperweb.org/wallpaper/nature/deer-cave-mulu-national-park-borneo-malaysia_1600x1200_47115.htm
Di gua ini tinggal tiga juta kelelawar, yang secara total diestimasi memakan 5 ton serangga setiap malam, termasuk nyamuk. Clio bilang, “Terima kasih kelelawar, berkat kalian kulitku mulus tanpa bentol.” Maksud si Clio pastinya bentol baru…karena kalau bocel-bocel akibat gigitan nyamuk dulu sih masih keliatan bekasnya…. *awas, ditimpuk sendal*
Sumber: http://www.mulupark.com/htm/cave_activities/index.htm
Sambil terkagum-kagum melihat gua yang ukurannya raksasa (katanya sih cukup untuk parkir tiga pesawat Boeing 747!), ada satu pertanyaan di benak saya: kalau tiga juta kelelawar makan 5 ton serangga setiap malam, berarti kotorannya, yang disebut Guano, sebanyak apa ya? Menurut Henry, jawabannya bisa dilihat dengan jelas di tanah di kanan dan di kiri jembatan tempat kita jalan.
Setelah celingak-celinguk sebentar, saya tanya lagi, “Mana Guano-nya ya… kok cuma kelihatan tanah yang menggunung doang?”
DAN, ternyata yang saya kira tumpukan tanah itu sebenarnya adalah kotoran kelelawar! SEMUANYA!
Karena di gua cahayanya remang-remang, yang terlihat adalah tanah. Untuk membuktikan bahwa itu adalah kotoran, seorang pemandu grup lain menyorotkan senter ke tanah di pinggir jembatan, lalu menginjaknya. Begitu diinjak, tanah langsung amblas ke bawah, dan ketika om pemandu mengangkat sepatunya, terlihatlah berbagai macam binatang seperti kecoa dan cacing yang langsung berlompatan keluar di tempat yang diinjak. Oooh… tidaaak!
Di Deer Cave ini, karena ukurannya yang sangat besar, ada saat di mana kita harus berpindah dari sisi kiri gua ke sisi kanan gua, dan itu berarti melintas melewati jalan besi di tengah-tengah Guano.
Kalau sebelumnya saya menanggapi enteng peringatan, “Hati-hati ya jalannya, jangan terpeleset,” sekarang saya siaga 1. Siapa juga yang mau luluran pake’ Guano?!
Di gua ini, formasi batu terlihat sangat mengesankan karena ukurannya yang raksasa. Benar-benar kontras dengan bebatuan di gua Lang, yang menonjolkan detail dalam formasinya.
Ada yang bentuknya seperti Abraham Lincoln, yang hanya bisa terlihat dari satu sudut tertentu.
Sumber: http://www.mulupark.com/htm/cave_activities/index.htm
Semakin kami masuk ke dalam gua, bau ammonia dari Guano semakin menyengat. Saya sempat dengan pede menertawai Elen yang menutup hidungnya dengan tisu, tapi di akhir perjalanan saya juga menyerah dan melakukan hal yang sama. Menurut Henry, sore ini bau Guano memang super menyengat, kemungkinan karena kemarin turun hujan. Hmm… apa hubungannya ya? Entahlah, saya terlalu malas bertanya karena sibuk menenangkan diri sendiri supaya tidak membaui Guano. Perhaps next time I’ll ask.
Bat Observatory
Setelah selesai dengan Deer Cave, kami kembali menuju Bat Observatory.
Sumber: http://www.mulupark.com/htm/cave_activities/index.htm
Tidak lama menunggu, hanya sekitar setengah jam, terlihat rombongan kelelawar meninggalkan sarangnya.
Sumber: http://blog.malaysia-asia.my/2009/07/bat-watching-at-mulu-caves-in-sarawak.html
Saya sedikit kecewa karena ternyata mereka meninggalkan sarang dalam kelompok-kelompok kecil. Tadinya saya pikir berjuta kelelawar akan langsung meninggalkan sarang sekaligus, sehingga langit akan tertutup kelelawar. Setelah dipikir-pikir, masuk akal juga mereka pergi berkelompok, mungkin supaya bisa diatur oleh kepala rombongan. Elen berkomentar bahwa gelombang pertama yang pergi pastilah dari etnis Cina seperti dia. Saya mengerutkan kening sebentar hingga mendengar alasan yang dikemukakan Elen selanjutnya: karena orang Cina adalah pekerja keras….What a joke….
Di perjalanan kembali, saya ngobrol banyak dengan Elen, yang ternyata lulusan bidang Finance dari Australia, dan bekerja di salah satu bank investasi di Kuala Lumpur. Dimulai dari perbincangan tentang karaoke, negara yang pernah dikunjungi hingga politisasi agama dan presiden SBY. Tak disangka memang, Elen yang sedemikian konyol bisa bicara topik yang serius. Mungkin karena pekerjaannya mengharuskan dia traveling ke berbagai negara tiga kali setahun dan bertemu dengan banyak orang, maka wawasannya luas dan terbuka. Btw, salah satu kekonyolan Elen yang lain adalah ketika Henry si pemandu sedang memperlihatkan ikan-ikan yang terlihat di sungai dari atas jembatan. Dia mendadak memanggil para peserta tur yang agak tertinggal di belakang, lalu berkata, “Hey guyz, hurry up, sushi for you here!”
Jadi jangan heran kalau saya tidak punya ekspektasi Elen bisa bicara serius.
Satu hal menarik yang diutarakan Elen adalah tentang bagaimana bagusnya kinerja presiden SBY di mata asing. Terlepas dari berita miring dalam negeri, presiden SBY sudah melakukan tugas yang baik dalam menaikkan rating Indonesia sehingga menarik investor asing untuk kembali menanamkan modal di Indonesia. Sebuah diskusi yang menarik, karena memberi perspektif lain bagi saya dalam melihat kinerja presiden.
Tiba di bungalow, tidak ada yang lebih saya impikan saat itu selain mandi air hangat dan menggosok badan dari kepala hingga kaki untuk meluruhkan sisa bau kelelawar yang menempel di badan.
Saat makan malam, saya duduk di satu meja dengan dua peserta Canada yang ternyata bernama Judy dan Mike, 27 tahun. Saya ternganga mendengar mereka keluar dari pekerjaan untuk bepergian secara backpacking ke Asia selama delapan minggu. Wow! Kalau di Indonesia, mungkin satu keluarga besar sudah memberi ceramah panjang lebar tentang pentingnya mempertahankan pekerjaan demi sebuah kemapanan
Di Mulu National Park ini, mereka tinggal satu minggu dan mencoba banyak hal. Selain Deer & Lang Cave yang saya ikuti, mereka ikut tur dua gua lain (Clearwater & Winds), dan yang tersulit dari semua adalah The Pinnacles. Sepulangnya dari Mulu ini, mereka masih akan berkeliling di tempat-tempat lain di Malaysia dan Brunei.
Sedikit cerita tentang Pinnacles:
Pinnacles adalah formasi limestone setinggi lima puluh meter yang bertebaran di salah satu area taman nasional. Untuk melihat formasi tersebut, selain harus berjalan kaki menembus hutan, pengunjung juga harus mendaki tebing atau bukit. Diperlukan dua malam perjalanan untuk melihat Pinnacles dari dekat, karena peserta harus bermalam di Camp 5 dalam perjalanan pergi maupun pulang. Dari Camp 5, jarak hanya sekitar 2.4 km, tapi perjalanan memakan waktu 8 jam.
Clio bilang, “Tidak mau, terima kasiiiih, liat fotonya aja deeeh.”

Sumber: http://www.mulupark.com/htm/cave_activities/index.htm
Dari bincang-bincang sepanjang makan malam akhirnya saya baru tahu kalau Mike dan Judy siang tadi salah busana
Rupanya mereka mengira dalam tur ini ada acara naik perahu. Berdasarkan pengalaman mereka saat mengunjungi dua gua lain, mereka selalu naik perahu dan selalu kehujanan, jadi mereka hanya mengantongi ponco saja. Dan karena selama ini paket tur yang mereka ikuti selalu menyediakan makan siang, jadi mereka sama sekali belum makan siang, sedangkan sarapan pagi hanya kripik. OMG! Kalau saya disuruh jalan empat jam seperti tadi tanpa makan siang sudah pasti pingsan di jalan.
Mike dan Judy memesan satu porsi nasi goreng, satu porsi nasi putih dengan lauk sayur, dan satu mangkok laksa yang tampilannya sangat menarik dan menggoda. Bertolak belakang dengan spageti pesanan saya yang disajikan di mangkok sehingga tampak seperti mi instan saus merah. Untung menu saya dilengkapi dua potong roti garlic—satu masuk ke perut saya, dan satu lagi saya tawarkan ke Mike yang tidak ragu-ragu menerimanya dan mengaku masih lapar
Saya tentunya tidak melewatkan kesempatan untuk memanas-manasi mereka pergi ke Bali dong… secara itu tempat favorit saya. Mudah-mudahan Indonesia, termasuk Bali, Lombok, dan Pulau Komodo akan jadi tujuan perjalanan mereka selanjutnya.
I wish I did what they are doing when I was still that young….. Life is short and we only live once. From my short experience, I believe we can get in touch vertically with The Creator, by exploring horizontally through His creations.
Besok adalah saatnya tur Canopy Walk, jam 7 pagi. Tur ini diselenggarakan beberapa kali setiap hari, namun karena penerbangan saya siang hari dan check-out harus jam 10 pagi, saya memutuskan ikut yang jam 7 supaya masih sempat mandi dan beres-beres setelahnya. Mudah-mudahan bisa bangun pagi……secara nggak ada jam beker.
(bersambung ke Mulu Bagian 4 – terakhir aaah
)

