Tag Archives: BEM FEUI

Obyektivitas dalam Menulis

Judul di atas adalah salah satu pertanyaan yang diajukan ke saya di acara penulisan BEM FEUI. Teman yang bertanya memberikan contoh pengalamannya sendiri saat menulis tentang topik ‘Love’ di satu acara penulisan jurnalistik. Ketika tulisan dievaluasi, teman ini mendapat masukan bahwa tulisannya masih subyektif.

Tulisan ini saya buat karena saya masih ‘tergelitik’ setelah menjawab pertanyaan secara lisan saat acara berlangsung. Aturan umumnya adalah: bila setelah lewat dari dua puluh empat jam sebuah topik sama masih menggelayuti pikiran, itu saatnya untuk berpikir lebih serius dan mengeksplorasi hal-hal yang (sudah pasti) ada yang terlewati oleh pengamatan selama ini. Dan ketika saat masak mi instan barusan pertanyaan itu masih menari-nari di kepala, jadilah si Clio sekarang duduk manis di depan komputer :D

Sebelum membahas tentang ‘Love’ atau cinta yang sudah dibahas sejak pertama kali manusia ada di bumi dan sampai sekarang belum kelar juga (*so help me, God… :p ), ada satu pertanyaan yang perlu klarifikasi.

Perlukah sikap obyektif dalam menulis?

Karena pengalaman saya adalah menulis fiksi, agak sulit untuk menjawab hal itu. Ketika karakter saya adalah dua tokoh pria yang mencintai satu wanita, pada satu titik saya sudah harus memutuskan apa yang akan terjadi. Dan itu berarti saya sudah memasukkan pertimbangan pribadi yang sudah pasti subyektif.

Sikap obyektif adalah tantangan yang lebih nyata dalam tulisan non-fiksi. Tentu saja tantangan itu bukan hal  yang mutlak dalam semua tulisan non-fiksi, karena semua berpulang kepada tujuan yang ingin dicapai dan pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca. Sebuah laporan tentang korupsi di surat kabar umum, sah-sah saja bila disertai harapan akan tindakan nyata pemberantasannya—sebuah keberpihakan penulis akan anti-korupsi. Tapi bila topik yang sama diletakkan dalam konteks berbeda, misalnya jurnal statistik yang sifatnya murni data, tentulah satu paragraf singkat berupa harapan tersebut jadi out-of-place.

Jadi, lagi-lagi, yang penting adalah konteks dan tujuan penulisannya.

Let’s start exploring!

Bila memang diperlukan sikap obyektif, menurut saya tidak ada yang lebih penting dari memasukkan sudut pandang sebanyak-banyaknya. Dan kita tidak boleh lupa bahwa setiap sudut pandang mungkin masih punya dua sisi mata uang yang berbeda.

Untuk membuat sebuah tulisan tentang ‘Love’ yang obyektif, menurut saya sih hampir nggak mungkin, ha..ha… just kidding :)

Dalam tulisan singkat ini, saya hanya akan mencoba mengemukakan sudut pandang penulisan ‘love’ sebatas apa yang ada di persepsi saya.

Pertama, mungkin yang bisa dipertanyakan dan dibahas adalah tentang love atau cinta itu sendiri. Is there such thing as ‘love’, or isn’t there? OMG! Baru mikirin ngebahas topik ini aja udah bikin sakit kepala, he..he… ini adalah sudut pandang optimistik vs pesimistik dari keberadaan cinta itu sendiri.

Kedua, dengan asumsi bahwa love ada (ini aja udah subyektif, lho, walaupun menurut saya sih masih termasuk kategori ‘mild’ :) ), saya mungkin akan tergoda untuk menulis tentang indahnya cinta. But wait a sec! Cinta bisa juga sangat menyakitkan….. bandingkan perasaan orang yang sedang jatuh cinta dengan yang baru putus cinta.

Ketiga, mungkin tulisan bisa ditekankan pada obyek cinta itu sendiri, yang variasinya bukan hanya seputar romansa pria-wanita: ada kisah cinta sejenis, ada jenis cinta dari orang tua ke anak, ada cinta antara seseorang dengan hewan peliharaannya, ada juga cinta ke pekerjaan, ada juga cinta ke Tuhan. Secara ringkas, ada cinta ke obyek makhluk dan ada cinta ke Tuhan. Ini saja sudah dengan pendapat subyektif penulis bahwa Tuhan itu ada :) >> di Indonesia mungkin hal ini tidak ‘mengganggu’, tapi bayangkan kalau kita menulis di negara lain dengan editor seorang atheist ….. we will definitely be scrutinized!

Keempat, bisa juga dibahas tentang ‘kemurnian’ cinta: cinta yang murni vs cinta yang tidak murni. Tapi saya yakin kalau kita mau mengeksplorasi topik ini, kita sulit sekali menghindar dari subyektivitas. Yang melintas di benak saya barusan dengan kata-kata ‘cinta yang murni’ ada dua, yaitu cinta Tuhan dan cinta orang tua. Yang pertama lagi-lagi sudah berdasarkan premis bahwa Tuhan ada. Sementara pendapat yang kedua (cinta orang tua) akan langsung pupus bila tulisan dibaca oleh anak-anak yang ada di penampungan karena kekerasan dan penyiksaan yang dilakukan orang tua.

Saya yakin masih banyak lagi sudut pandang yang dibisa dieksplorasi tentang cinta. Dan eksplorasi semacam ini tentu bisa dilakukan untuk menulis topik apa saja, bahkan dalam fiksi (terutama ketika membangun plot).

Akhir kata, saya nggak tahu tulisan di atas bisa memuaskan teman penanya atau tidak, atau bahkan apakah relevan dengan pertanyaan atau tidak. Yang jelas, setelah menulis hingga kehabisan nafas ini, saya cukup yakin kalau saya akan memilih menulis fiksi selama-lamanya, ha..ha….

Untuk yang ingin menulis non-fiksi, saya ucapkan semoga beruntung dan selamat bekerja keras ;)

Leave a comment

Filed under Clio talks..., Writing Process

Terkejut

Kemarin saya diundang oleh BEM FEUI (Badan Eksekutif Mahasiswa) untuk bicara tentang tulis-menulis. Acara ini merupakan salah satu program pengembangan internal yang dilakukan divisi SDM, yang ingin menginspirasi teman-teman di BEM untuk lebih produktif lagi menulis. Yang ada di bayangan saya ketika mengiyakan undangan adalah: datang setengah jam sebelum acara, dengerin pembukaan dari panitia, ngomong dan sesi tanya jawab, trus pulang. Selain apa yang diberitahu panitia (Garin) bahwa peserta yang sekitar 70 orang pakai dresscode batik, saya tidak punya ekspektasi dan bayangan lain tentang acara dan pesertanya, selain bahwa itu adalah acara yang diselenggarakan mahasiswa untuk mahasiswa.

Ketika datang, panitia memberi selembar kertas berisi rundown acara, dan saya pun dibuat terkejut dengan apa yang saya baca pertama: “Menyanyikan lagu Indonesia Raya.” Oh, boy! Saya cinta sekali dengan negri ini, tapi itu bukan berarti saya pede dengan kemampuan diri sendiri menyanyikan lagu kebangsaan, yang terakhir kali dilantunkan oleh saya adalah saat wisuda belasan tahun yang lalu! Pandangan langsung saya arahkan ke kolom PIC yang akan memimpin acara tersebut, dan saya pun mengembuskan nafas legaaaaaaaa ketika melihat saat itu mikrofon masih dipegang oleh panitia :D

Setelah bisa tersenyum, baru saya membaca lebih detail, dan kembali dikagetkan ketika melihat di akhir acara ada pemilihan peserta dengan baju terbaik. Mungkin ini hal yang biasa, tapi karena saya nggak punya ekspektasi teman-teman BEM bisa sekreatif ini (he..he.. sorry guyzzz….., nothing personal), saya jadi kaget dong. Dan ini bukan hal terakhir yang bikin saya kaget. Teman-teman BEM juga menerapkan sistem reward-n-punishment yang konstruktif dan menarik bagi para anggotanya, yang merupakan salah satu faktor penentu dalam menghadirkan jumlah peserta yang memadai; kehadiran anggota akan menambah poin bagi divisi di mana mereka berada, dan mereka yang tidak hadir diberi hukuman membuat sebuah puisi, yang nantinya akan diikutkan ke sebuah lomba yang memang akan diadakan dalam waktu dekat….. jadi hukuman ini sama sekali jauh dari kesia-siaan.

Selain terkagum-kagum dengan kreativitas teman-teman BEM FE, bagi saya pribadi, sesi itu sangat menarik karena saya seperti mengingatkan diri sendiri untuk rajin-rajin menulis :) Saat mengucapkan kalimat-kalimat berisi ajakan untuk menulis, atau mengenali komponen-komponen saat menulis, saya merasakan sebuah gejolak dalam jiwa. Dan ketika kalimat berikut meluncur dari mulut saya, “…yang penting dalam menulis adalah disiplin…”, saya merasa ada satu kepribadian di diri saya yang pipinya memerah karena malu, duduk diam dengan kepala menduduk seperti sedang diceramahi dan dilucuti,…. pastinya itu si Clio! Ha..ha… tau rasa!

Di akhir acara, kepala saya sudah tidak sabar untuk membenahi plot, menumpahkan isi kepala, dan menyelesaikan hutang-hutang tulisan yang menumpuk, mulai dari buku, blog, jurnal, hingga memutuskan apa moto utama hidup saya…. >> yang terakhir ini juga terinspirasi oleh pemandu acara yang kreatif, yang meminta peserta yang bertanya untuk memperkenalkan diri dengan nama, tanggal lahir, dan moto hidup….. Walaupun pemandangan teman-teman penanya tergagap menjawab adalah hal yang menghibur, pertanyaan itu ikut memicu saya untuk berpikir tentang apa prioritas terpenting dari sekian banyak nilai-nilai yang saya anut dalam hidup.

Terima kasih kepada teman-temang BEM FEUI, yang mengingatkan saya bahwa mahasiswa (dan semua manusia pada umumnya) bisa sangat kreatif kalau memang mau berusaha untuk itu. Semoga semakin banyak acara-acara kreatif lainnya dari anak muda bangsa ini……Dan semoga, apa yang disampaikan kemarin tidak hanya bermanfaat untuk saya, tapi juga untuk mereka yang mendengarkan.

Anyway, kenapa saya jadi melankolis gini ya? Is it perhaps because I miss my time in campus? Well, kalau ingat berbagai acara nongkrong sama teman-teman sih memang jadi kangen, tapi kalau ingat tugas-tugas dan ujian-ujiannya, “Tidak, terima kasiiiiiiiih….” He..he…

4 Comments

Filed under Clio talks...