Writer, Blogger, Coach

clio freya

Fiction is life,

disguised in words.

Setelah menjalani pendidikan di Core Operation Unit (COU), badan intelijen milik keluarga McGallaghan, Fay kembali ke kastil McGallaghan yang telah menjadi rumahnya dengan satu tekad: mencari tahu lebih dalam tentang kecelakaan yang menimpa orang tuanya sembari menjalani hari-demi-hari secara wajar sebagai seorang McGallaghan.


Namun, ternyata semua berlangsung lebih rumit dari yang dibayangkan semula. Dengan kembalinya Enrique Davalos dari Venezuela, hubungan Fay dengan Enrique yang sempat terputus kembali terjalin di luar sepengetahuan pamannya Andrew McGallaghan, juga Kent dan Reno.

 

Fay pun berjuang menjalani kehidupan ganda. Di luar itu, ia juga berusaha keras mempertahankan interaksi yang wajar dengan Kent dan Reno. Bukan hal yang mudah, karena Kent yang menganggap hubungan Fay dengan Enrique sudah berakhir, lagi-lagi menunjukkan sikap hangat dan selalu ingin berdekatan; Reno pun entah kenapa menjadi lebih protektif, membayangi setiap gerak dan langkah Fay.  

 

Perlahan-lahan, satu-per-satu fakta terkuak. Tak hanya tentang kecelakaan yang menimpa orang tua Fay, tapi juga tentang Kent, Reno, dan bahkan tentang pacar Fay sendiri, Enrique. Akhirnya, ketika Fay berhasil menghubungkan banyak fakta-fakta yang terserak, ia pun tiba di satu titik di mana ia terpaksa mempertanyakan kembali keputusannya berbulan silam saat memilih untuk bergabung dengan keluarga McGallaghan.

p  r  o  j  e  c  t  s

Fay series - Book 4

I'm currently working on three projects. I knoooow.... sounds overly ambitious, yet, nothing is accomplished (this is the part where my eyes get teary.......Nay, not that dramatic).

 

In light of that discovery (that I cannot do multitasking, ha!), I've decided to do these in sequence, not in parallel. The synopsis is available in Bahasa only.

PERU - Ketika cinta berkata

Border Prepschool

Peru.

 

Negara yang berada di sebelah barat benua Amerika Selatan ini menjadi salah satu pijakan bagi pegunungan Andes dan hutan tropis terluas di dunia, Amazon. Perlu waktu setidaknya tiga puluh jam untuk terbang ke Peru dari Jakarta, dengan biaya yang melonjak hingga lebih dari dua kali lipat biaya ke Eropa.

 

Negara inilah yang dikunjungi oleh  Ila  Kiran selama dua setengah bulan, tanpa tujuan pasti. Dalam kondisi depresi setelah kehilangan suami dan pekerjaan, ia hanya tahu harus pergi ke sana, mengikuti tuntunan hatinya yang terdalam, yang bagi banyak orang dianggap sebagai ilusi walaupun bagi Ila sendiri terasa sebagai sebuah instruksi.

 

Ila pun berangkat ke Peru dengan mempertaruhkan segalanya, menguatkan dirinya untuk meninggalkan buah hatinya yang masih kecil dengan berpegang teguh pada suara hatinya yang kian bulat dengan keputusan untuk pergi, tanpa tahu apa yang sebenarnya dicari, dan apa yang menunggunya di sana.

 

Apakah kebebasan? Atau kebahagiaan? Atau lagi-lagi, kekecewaan dan kehancuran?

 

Hanya satu harapannya, bahwa suara hatinya tidak mengkhianatinya dan membuat semua pengorbanannya menjadi sia-sia.

Border Prep(aration) School.

 

Sebuah sekolah berasrama ekslusif berdurasi satu tahun di dekat Batu, Malang, yang menyiapkan murid-muridnya untuk masuk ke universitas ternama di dalam dan luar negeri. Tak hanya itu, sekolah ini juga menjanjikan kalau siswa-siswa mereka nantinya bisa dengan mudah menyabet beasiswa selama di universitas dan lulus dengan prestasi membanggakan.

 

Setidaknya, begitu informasi yang tercetak di brosur. Namun, kenyataan di dalam tak pernah sesederhana apa yang ditampakkan di luar.

 

Jati Halmahera masuk ke Border untuk mempersiapkan diri berkuliah di Oxford. Walaupun tampak seperti remaja biasa yang sikapnya cuek dan suka semaunya sendiri, ia punya kelebihan yang tak diketahui banyak orang: menjelajah ruang dengan proyeksi mental, tanpa perlu beranjak dari tempatnya berdiri.

 

Di hari pertamanya di Border, Jati sudah menemukan keganjilan yang tak bisa dijelaskan, yaitu ruang-ruang yang tak bisa dimasuki baik oleh tubuh fisiknya maupun proyeksi mentalnya, yang sepertinya berubah dan bergerak setiap saat.


Keanehan-keanehan terus terjadi dan Jati bertekad untuk mencari tahu, hingga akhirnya keping-keping petunjuk mengindikasikan hal yang meresahkan: ada tangan-tangan tak terlihat yang sedari awal berniat mempertemukan Jati dan teman-teman sekelasnya di tempat itu dan telah melakukan segala cara untuk menggiring keputusan orang tua mereka untuk menyekolahkan mereka di sana.


Berarti, kemungkinan besar Border Prep School didirikan untuk tujuan yang sama sekali tak ada kaitannya dengan persiapan universitas.

 

Dan apapun tujuan itu, Jati dan teman-temannya sudah terseret ke dalam arus permainannya tanpa tahu bagaimana cara berenang keluar.