Jurnal Perjalanan: Mulu, Sarawak – Bagian 1

Berangkat (30-Jun-2011)

Taman Nasional Gunung Mulu adalah salah satu tempat di Asia Tenggara yang masuk ke daftar World Heritage atau ‘Warisan Dunia’ kalau diterjemahkan secara bebas ala Clio :)

Berlokasi di Sarawak, perjalanan ke Mulu dari Kota Kinabalu memakan waktu 1,5 jam dengan maskapai MASWings, karena ternyata transit dulu ke Miri… ini sih tanpa sengaja, karena saya baru sadar setelah bayar online dan tiket dicetak. Tapi untuk perjalanan kembali, rute ternyata langsung dengan waktu tempuh hanya 1 jam.

Sebelum berangkat ke airport, saya sempat keliling-keliling cara tempat pangkalan taksi, yang saya yakin benar ada di sekitar hotel (karena hari sebelumnya pernah lewat), tapi lupa persisnya di mana. Setelah bersimbah keringat, akhirnya saya memutuskan mau beli SIM Card lokal dulu karena saya check in menggunakan handphone dan harus print boarding pass di airport menggunakan kode yang dikirim ke nomor di handphone. Eh, tenyata pangkalan taksi ada persis di belakang hotel. Minta ampuuuun…..

Kalau dari airport dari airport ke kota saya harus beli kupon dulu, untuk perjalanan dari kota ke airport saya hanya perlu tanya langsung ke Pak Supir berapa harganya (walaupun ada tulisan kalau taksinya pakai argo). Saya sudah pasang kuda-kuda nih buat nawar, secara saya kan orangnya paling nggak pede kalau harus nawar. Setelah mendengar harga yang disebutkan, yaitu RM 25, saya mendadak lupa dengan niat tersebut dan langsung oke, ha..ha.. dasar nggak konsisten.

Pak Taksi dengan yakin menebak kalau saya mau naik AirAsia. Begitu saya bilang mau naik MASWing ke Mulu, dia langsung berkomentar, “Mulu? Wow, tough one.” Hmmm….saya mulai merasa sedikit terintimidasi dengan komentar beliau, tapi hey, tiket udah siap niiiiih…udah check-in malah! Tapi tenaaaang….walaupun saya sempat beli asuransi perjalanan sebelum berangkat, saya nggak punya rencana ikut aktivitas penuh petualangan yang berat-berat. Malah, rencana saya ke Taman Nasional itu adalah bersantai di bungalow pinggir hutan, sambil sesekali mengetik, serta tidur ditemani suara binatang di alam liar. :)

Di airport, saya baru sadar kalau batere kamera saya tewas, dan saya nggak punya konektor listrik yang pas untuk memakai power outlet standar yang ada di Malaysia. OMG! So, my camera is super dead. Berarti nggak bakal bisa dipake’ pas lagi di Mulu. Sebagian diri saya sudah menyesal setengah mati dan menyalahkan diri sendiri, tapi sebagian yang lain dengan pede merasa bahwa ini adalah saatnya saya menikmati hari tanpa terganggu oleh keinginan foto dan menjadi narsis, plus sebagai pertanda bahwa saya harus balik ke sini lagi. Sebuah alasan menghibur diri yang garing abis, tapi satu-satunya yang terpikir saat itu.

*tarik nafas*

Saat sedang pengecekan boarding pas di pintu masuk area boarding, petugasnya bertanya, “Are you going to Mulu??”

Tidak ada yang aneh dengan kalimatnya itu sendiri, tapi nada bicaranya itu lho, yang bikin saya menaikkan alis. Setengah waspada, saya jawab, “Yeah, I’m going to Mulu. Why? Is there anything wrong with Mulu?
Pak Petugas buru-buru jawab enggak. Eh, beberapa saat kemudian, pas saya lagi ngubek-ngubek tas mo simpen tiket n pasport, dia tanya lagi, “Are you traveling alone?” Setelah saya iyakan, si bapak kasih komentar. “So, you are adventuring alone, to Mulu, huh?” Aduuuuh, si bapak ini bikin panik aja deeeeh….. saya kan jadi bertanya-tanya ada apa di Mulu dan kenapa emangnya kalau pergi sendiri ke sana!

Pesawat berangkat terlambat dari KK, yang harusnya 12.40 jadi jam 13.10. Yang bikin saya excited adalah pesawatnya beda dari pesawat yang pernah saya naiki karena punya baling-baling di bagian depan sayap, kayak pesawat yang ada di pilem-pilem tentang Perang Dunia II. Idiiih, norak banget ya, he..he…

Sebelum naik pesawat, saya menyempatkan diri foto narsis di kamar mandi. Lihatlah betapa tidak matching-nya tas yang saya bawa. Selain ransel di punggung, saya bawa tas bunga-bunga untuk laptop, hi..hi… belakangan, tas bunga-bunga itu nasibnya naas karena pegangannya putus. Uuppss….harus minta maaf sama putri tersayang, karena tasnya punya dia, he..he… “Maaf ya my baby girl.”

Duduk di 17F, ternyata tetangga saya adalah seorang pria asal KK yang kerja di Halliburton. Yah, bisa ditebak kalau setelah itu pembicaraan lancar laaah, nggak jauh-jauh dari dunia lapangan bidang perminyakan. Mulai dari klien, kehidupan sebagai engineer lapangan, kuliah, sampai tempat-tempat yang pernah dikunjungi saat bekerja. Victor, atau singkatnya Vic, lebih banyak bercerita karena pengalamannya lebih banyak dari saya yang hanya bekerja sebagai Field Engineer di Schlumberger selama 1 tahun. Dia sudah kerja selama 15 tahun! Dan dia bahkan bilang, “It’s in my blood.” I believe him. One can’t work consistently in the same job for 15 years without having the job penetrated into the soul. He said once he tried to work in the office and could stand it for only one week….. he even complained that he had two meetings everyday. Well, my golden rule for this: If you have only two meetings per day and you’re complaining, you are definitely a field person :)

Setelah penerbangan singkat selama 55 menit, kami berpisah karena tujuan akhir Vic adalah Miri. Yang menyebalkan adalah, saya tetap harus turun di Miri untuk melewati imigrasi, karena Sarawak punya sistem imigrasi sendiri. Bahkan Vic bilang dia juga harus lewat imigrasi, walaupun cuma lewat doang sambil nunjukin ID card. Jadilah saya nenteng-nenteng tuh tas bagong turun, lewat imigrasi, trus naik pesawat lagi.

Tadinya saya berharap pesawat kosong karena sebagian besar penumpang turun di Miri, eh tapi ternyata yang naik banyak banget. Jadilah penuh lagi. Belakangan saya tahu kalau pesawat pagi di cancel dan penumpangnya dialihkan ke pesawat siang, jadilah penumpangnya mbludak—kyknya yang kosong cuma satu seat, persis di sebelah saya. Lucky me.

Kebagian duduk di depan (6C), posisi saya jadinya persis di sebelah baling-baling. Nggak asiknya adalah, begitu mendekati Mulu (30 menit perjalanan), pemandangan ke Gunung Mulu nggak maksimal.

Gunung Mulu Park

Sampai di airport, sesuai petunjuk yang diberikan ke saya lewat email, saya langsung beli tiket transport ke park seharga RM 5. Di depan airport yang kecil banget itu, udah berjajar mobil penjemput. Paling depan ada dua landrover, di belakangnya ada angkutan seperti bis terbuka dengan duduk saling berhadapan….turis banget lah pokoknya. Saya konfirmasi ke ibu yang jual tiket yang mana transportnya dan dia tunjuk satu mobil lain yang diparkir di sisi luar, sebuah mobil seperti carry warna putih yang dihiasi warna coklat karat di sana-sini. Pokoknya tampilan luarnya butuuuuuut banget, udah kayak kaleng rombeng.

Saya sampai tanya tiga kali dengan muka bego pura-pura nggak tahu sambil setengah berharap dia salah tunjuk dan saya bisa naik Land Rover, tapi harapan saya hanya pepesan kosong. Dengan langkah gontai saya masukin barang ke bagasi, dan lamaaa banget nunggu penumpang lain yang mau ikutan mobil yang sama. Dengan mata nanar saya memperhatikan para penumpang satu demi satu meninggalkan saya dengan bis-bis dan mobil-mobil bagus… hiks….

Karena nggak tahan dengan perlakuan mirip diskriminasi (saya satu-satunya representasi orang Melayu, sementara sisanya Kaukasia, Timur Tengah, dan Asia Tengah), saya tanya ke Pak Tua, supir yang akan membawa si mobil tua. Ternyata, menurut Pak Tua, rombongan dengan mobil bagus itu perginya ke Royal Mulu Resort. Nah, resort yang disebut belakangan ini adalah ikon penginapan di Mulu. Bahkan Pangeran Albert dari Inggris aja pernah tinggal di sana dan bilang kalau Mulu adalah sanctuary on earth… sebangsa gitu lah.

Catatan: Pak Tua bukan nama supirnya, tapi cuma nama julukan dari saya karena orangnya kelihatannya sudah tua sekali.

Thank God, akhirnya beberapa penumpang kaukasia yang tampangnya sama bengongnya sama saya, ikut naik. Ha..ha… you should see their faces when they saw the car…. Mungkin tadi ekspresi saya seperti itu juga. Sepasang cowok dan cewek yang duduk di belakang saya kayaknya sih ngomong Jerman. Di sebelah saya orangnya ngomong Inggris walaupun logatnya juga Eropa, sedangkan penumpang paling berisik, pria Amerika, duduk di depan.

Pas mobil tua jalan, langsung disusul sama mobil ala pelesir yang super angkuh itu. Malah, satu orang berwajah Timur Tengah sempat memvideokan mobil yang saya tumpangi sambil ketawa-tawa. Menyebalkan sekali! Awas ya… pembalasan lebih kejam!

Sepanjang jalan yang ada di kepala saya adalah, apakah keputusan untuk menginap di park salah? Apakah lebih baik kalau saya memilih untuk menginap di resort saja? Wajar dong saya panik kalau melihat perbedaan kasta yang sedemikian jelas di mobil jemputan!

Belakangan saya baru tahu bahwa penjemputan di airport menggunakan jasa transport lokal, yang jenisnya bervariasi. Jadi, saya memang apes aja pas kebagian mobil itu.

DAN begitu saya turun di depan taman nasional, semua pertanyaan dan keraguan langsung menguap. Sewaktu turun dari mobil, penumpang langsung disambut sebuah pemandangan unik: jembatan kayu yang melintasi sungai, yang bergoyang-goyang ketika dilalui. Jadilah saya menyeberang dengan gagah berani, sambil harap-harap cemas kalau banyak kejutan menyenangkan lain di resort.

Begitu masuk ke area taman nasional, yang ada di pikiran saya adalah: SAYA NGIRI! Bagaimana bisa di Indonesia yang sarat tempat-tempat indah dengan alam yang luar biasa kaya raya tumpah ruah gelimpah mubah sumpah nggak bisa bikin hal spektakuler seperti ini?! Pertanyaan itu langsung dijawab oleh Clio dengan nada polos menggemaskan, “Oh iya…. Mungkin karena pemerintahan di Sarawak ini punya niat baik membangun negeri kali’ ya… dan nggak cuma berpolitik kisruh demi memperkaya diri semata.” Tumben si Clio pintar sekali.

Ketika masuk ke area kantor taman nasional, terlihat sekali bagaimana semua tertata dengan rapi. Foto-foto berbagai atraksi dan area taman nasional terpampang sebagai bagian dari desain interior kantor yang terbuka dan ramah. Para petugas berjajar sepanjang meja panjang yang melayani tamu menginap dan tamu yang akan memesan paket tur. Prosedurnya jelas: tamu datang langsung membayar harga kamar sejumlah pesanan plus uang deposit untuk kamar jenis tertentu, lalu petugas akan memberikan kunci dan remote AC.

Kemudian pengunjung bisa memesan paket tur yang sudah dicetak berupa peta. Jadi bisa terlihat dengan jelas posisi secara relatif dari tempat-tempat yang ditawarkan. Setelah pengunjung memilih, petugas akan mengecek sebuah buku internal yang menunjukkan ketersediaan tempat. Bila tempat masih tersedia untuk tanggal yang dipilih, petugas mengisi buku tersebut dengan nama pengunjung, dan mengisi kolom di peta dengan jenis tur dan jam berapa peserta harus berkumpul. Setelah pengunjung membayar, peta disobek dan diberikan ke pengunjung. Aaarrrgggh, I love it!

Itu baru proses administrasi pemesanan saja. Sekarang kita bicara tentang akomodasi di taman nasional.

Omong-omong, tadi saya sudah bilang kan ya kalau batere kamera saya tewas dan saya lupa charge di KK? Sudah? *%*^&*()*&^%

Ehm, berarti mulai sekarang semua tergantung deskripsi, tanpa foto. Untuk yang suka sakit mata kalau baca tulisan panjang-panjang, saya usul sih nggak usah dibaca, karena si Clio ini nggak mau bertanggung jawab dengan kesehatan pembaca blognya.

Mulaiiiii……

Akomodasi di area Taman Nasional Mulu ini dibuat menyatu dengan area hutan, dengan menempatkannya persis sebelum masuk hutan, tanpa pembatas.

Ada beberapa jenis akomodasi, mulai dari tipe hostel yang terdiri dari beberapa tempat tidur dengan kamar mandi bersama, hingga tipe bungalow yang lebih pribadi dengan kamar mandi di dalam. Setiap bangunan dibuat terpisah-pisah antara yang satu dengan yang lain, berbentuk rumah panggung yang berjarak sekitar 1.5 meter dari permukaan tanah. Semua bangunan di area ini dihubungkan dengan jalan panggung dari kayu, yang letaknya rata-rata lebih tinggi beberapa senti dari tanah. Di beberapa bagian yang masih dibiarkan seperti habitat asli, seperti rawa, kolam, atau tanah berkontur, tentunya jaraknya lebih tinggi lagi, seperti jembatan.

Saya benar-benar terperangah melihat keindahan alam yang bisa sedemikian menyatu dengan area buatan manusia. Kadal bisa dengan mudah di temui sedang berjemur di jalan panggung. Burung-burung berseliweran di udara, kadang menghilang begitu saja ke dalam semak belukar yang tepat ada di sebelah saya. Belum lagi suara binatang hutan seperti serangga dan burung, yang saling sahut-menyahut tanpa henti. Tak lama berada di sana, kita dapat dengan mudah memilah-milah jenis suara burung, yang jelas sekali tidak hanya satu spesies, karena suara-suara mereka berbeda.

(bersambung ke Mulu Bagian 2 :) )

2 Comments

Filed under Mulu Park - Sarawak, Travel

2 Responses to Jurnal Perjalanan: Mulu, Sarawak – Bagian 1

  1. Nina

    huaaaaa ga sabar nunggu sambungannya…

  2. eunike

    ayooo cepaattt…tak sabar menanti niiiii *kaya resto padang ya? :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s