“The difference between fiction and reality? Fiction has to make sense.” — Tom Clancy
“It’s no wonder that truth is stranger than fiction. Fiction has to make sense.” — Mark Twain
Ada satu hal yang ‘aneh’ tentang fiksi bila dibandingkan dengan kejadian nyata: kejadian nyata bisa saja terdengar tidak masuk akal, tapi yang namanya fiksi harus masuk akal. Tentu saja yang dimaksud fiksi di sini adalah yang non-fantasi, walaupun bisa diterapkan juga secara lebih sempit untuk jenis fiksi fantasi.
Dulu saya mengerutkan kening ketika membaca quotes ini. Bukankah di dalam kisah fiksi banyak hal yang tidak masuk akal? Dan bukankah di situlah keasikan membaca sebuah fiksi, ketika kita masuk ke alam khayal yang dalam dunia nyata hampir tidak mungkin terjadi?
Setelah saya mulai menulis, sedikit demi sedikit saya mulai mengerti makna quotes tadi. Semua hal di dunia harus berhenti pada titik keseimbangan, di tengah-tengah sebuah dualisme, tidak terkecuali sebuah novel fiksi. Ha? :p
Penjelasan sederhananya seperti ini:
Karena kekuatan fiksi ada pada kreativitas khayalan yang di dunia nyata hampir tak mungkin terjadi, maka hal itu harus diimbangi oleh ‘kemasuk-akalan’ unsur lain dalam cerita, yang bisa jadi berupa detail, plot, karakter, atau lainnya. Coba kita ambil contoh novel seri Jason Bourne karangan Robert Ludlum. Di novel tersebut, Jason Bourne digambarkan sebagai seorang super-agent yang selalu selangkah lebih maju daripada musuh-musuhnya, yang adalah agen-agen khusus CIA. Di dunia nyata, tentu sosok se-manusia-super seperti Jason Bourne tidak ada (atau jaraaaaaang banget :p ). Untuk mengimbangi kemustahilan tersebut, Ludlum membuat detail-detail yang menggambarkan kegigihan dan ke-super-an Jason Bourne, sehingga akhirnya kemustahilan itu sendiri pupus. Atau dengan kata lain, pembaca dibuat percaya bahwa sosok Jason Bourne terasa sangat nyata dan kisahnya pun jadi masuk akal.
Akhirnya, sampailah saya pada bagian yang menyebalkan dari temuan ini: untuk membuat sesuatu yang mustahil jadi terasa masuk akal, diperlukan pemaparan detail-detail dalam cerita, dan itu berarti….. PENGUMPULAN FAKTA! OMG!
*”Aaaarrrrgggghhh……!”*
Dari semua kegiatan penyusunan cerita yang membuat saya stress, aktivitas pengumpulan fakta adalah bagian yang paling menyebalkan dari semua! Saya lebih suka membayangkan tokoh-tokoh saya ciuman (Kent dan Fay…. Kent dan Clio… ‘eh, fokus‘…. Kent dan Fay… Andrew dan Clio… ‘STOP, Clio!‘) atau berkelahi, daripada harus nongkrongin komputer berhari-hari suntuk (bukannya semalam suntuk lagi!) untuk melototin peta dan mencari detail nama jalan, mengebrowse ratusan gambar dan foto hingga mata belo, sipit, dan belo lagi hanya untuk mendapatkan dua baris deskripsi yang memuaskan, atau membaca berita berlembar-lembar hanya untuk mendapatkan informasi tentang satu tempat, yang akhirnya cuma jadi satu paragraf saja!!!
Sebagai ilustrasi, hanya untuk mendapatkan nama beberapa stasiun metro di buku ‘Eiffel, Tolong!’, saya harus mendownload peta subway, lalu mencoba mencari informasi area-area yang ada di peta tersebut di google. Bagaimanapun juga, saya harus tahu—bagaimana kalau saya bilang stasiun terdekat dengan rumah Fay di A, padahal aslinya stasiun A berada di tengah daerah industri dan tidak ada perumahan sekitar itu?
Di buku ‘From Paris to Eternity’, saya butuh waktu lamaaaaaaa sekali hingga berhasil menemukan deskripsi yang (mudah-mudahan) pas untuk menggambarkan Fontainebleau. Mulai dari download peta istana, peta daerah, browse kiri-kanan tentang artikelnya, hingga melototin foto-fotonya. Belum lagi kalau informasi yang saya cari (biasanya tag atau informasi yang tertulis di foto) dalam bahasa Perancis, euuurrrrgghhh…. usahanya jadi dua kali lipat karena saya harus mencari dulu artinya di kamus French-English.
Kedengarannya menyebalkan ya? Tentu saja! *awas, si Clio lagi sensi
But hey, life goes on and somebody’s gotta do the dirty job. Karena yang udah kebagian berasik-asik mengkhayal adegan ciuman adalah si Clio, tentu si Clio juga yang harus kebagian pekerjaan nggak enak mencari fakta sampai error. Memang, hidup hanya terasa adil kalau dilihat dari kacamata orang lain. *keluhan nggak penting sok filosofis
Tentu saja saya tidak berhak mengeluh, karena ini hanyalah sebagian dari proses penulisan yang memang harus dilalui, bukan hanya oleh saya, tapi oleh semua penulis lain. Walaupun detail menyebalkan (bukan hanya untuk yang menulis, tapi kadang untuk yang membaca), tetap harus ditampilkan sambil berharap porsinya ‘cukup’ sehingga lebih-kurangnya bisa diterima. Itu juga kadang-kadang kita bisa menemukan ‘hole’ dalam fakta di sebuah novel—sudah pasti kesalahan penulis akibat kurang akuratnya fakta yang ditampilkan. Tapi yah, kalau sebuah novel sudah diterbitkan, yang bisa diharapkan oleh penulis adalah kesalahan tersebut tidak fatal (*kalau fatal harusnya sudah ‘tertangkap’ mata editor-editor yang jeli), dan pintu maaf yang sebesar-besarnya dari pembaca
Dan akhirnya, tidak ada yang lebih melegakan daripada melihat wajah editor (Mbak Donna & Mbak Vera) yang tersenyum dan mengatakan kata ajaib itu, “Oke. Nggak perlu revisi lagi, tinggal diedit.” Horeeeeeee…… ! Terbayar lah sudah semua kerja keras pengumpulan fakta. Capek? Enggak tuh…. siapa bilang? Lha, tadi katanya bete? Masa’ sih…. ah, salah ngerti kali

